180 Berita
Panduinfo - Tugu Biawak yang berada di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial. Patung biawak berwarna mencolok yang berdiri gagah di sebuah bundaran ini memang sudah lama menarik perhatian warga lokal dan para pelancong. Namun baru-baru ini, keberadaannya kembali mencuat usai kabar bahwa tugu tersebut telah resmi didaftarkan dan memperoleh hak cipta dari Kementerian Hukum dan HAM.
Kabar ini sontak membuat warganet heboh. Banyak yang penasaran, mengapa sebuah tugu dengan bentuk hewan reptil seperti biawak bisa viral dan bahkan dilindungi secara hukum? Jawabannya sederhana: unik, lucu, dan penuh karakter.
Tugu Biawak Wonosobo bukanlah tugu biasa. Bentuknya yang tidak lazim dibanding tugu-tugu lain yang cenderung formal atau heroik, justru membuatnya mudah dikenali dan diingat. Biawaknya berdiri tegak dengan ekspresi 'ceria', warna-warni mencolok, dan pose yang terkesan santai namun penuh daya tarik. Warga lokal sudah lama menjadikan tugu ini sebagai penanda arah atau titik temu, tapi sekarang, fungsinya meluas menjadi ikon budaya pop lokal yang mendunia.
Menurut informasi dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo, proses pendaftaran hak cipta ini merupakan bagian dari upaya pelestarian kekayaan intelektual daerah. Dengan perlindungan hukum ini, diharapkan tidak ada pihak lain yang dapat menyalahgunakan bentuk, nama, atau replikasi dari Tugu Biawak tanpa izin resmi.
"Kami ingin memastikan bahwa karya ini tetap menjadi milik masyarakat Wonosobo, tidak disalahgunakan atau dikomersialkan sembarangan," ujar salah satu pejabat dari Dinas Pariwisata Wonosobo.
Reaksi masyarakat pun beragam. Di Twitter, banyak netizen membagikan meme, ilustrasi ulang, hingga merchandise digital bertema Tugu Biawak. Tagar #TuguBiawak bahkan sempat trending di beberapa wilayah. Sebagian besar merasa bangga bahwa sesuatu yang dianggap 'nyeleneh' bisa mendapatkan pengakuan resmi. Ada juga yang menyarankan agar tugu ini dijadikan pusat oleh-oleh atau spot foto wajib jika berkunjung ke Wonosobo.
"Dari dulu selalu jadi titik foto kalau mudik. Sekarang makin bangga karena tugu ini sudah punya hak cipta!" tulis akun @desiwonosobo di Instagram.
Di balik keseruannya, fenomena ini menunjukkan bahwa daya tarik wisata dan kebanggaan lokal tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang mewah atau megah. Justru, hal-hal yang otentik, jenaka, dan membumi seperti Tugu Biawak bisa menjadi aset yang kuat untuk membangun identitas daerah.
Pemerintah setempat pun tampaknya ingin memanfaatkan momen ini. Beberapa rencana pengembangan pariwisata pun mulai disusun, termasuk menjadikan lokasi sekitar tugu sebagai pusat kegiatan seni, festival lokal, dan kuliner. Harapannya, keberadaan tugu ini bisa mendorong peningkatan jumlah wisatawan, khususnya dari kalangan muda yang gemar berburu spot foto unik untuk media sosial.
Tak hanya itu, sejumlah komunitas kreatif di Wonosobo juga sudah mulai membuat karya-karya seni berbasis Tugu Biawak. Mulai dari komik digital, stiker WhatsApp, hingga rencana membuat animasi pendek yang menceritakan 'kisah' si Biawak sebagai pahlawan lokal.
"Tugu ini jadi inspirasi. Kita ingin anak-anak muda juga punya kedekatan emosional dengan simbol lokal seperti ini," ujar Riko, seorang ilustrator muda yang sedang merancang webcomic tentang Tugu Biawak.
Ke depan, Tugu Biawak bukan hanya sekadar patung di tengah jalan. Ia telah berevolusi menjadi simbol kebanggaan warga, inspirasi seni, dan bahkan potensi ekonomi kreatif. Dengan legalitas hak cipta yang kini mengikat, langkah ke depannya tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintah bersinergi untuk merawat dan mengembangkan potensi ini.
Apakah akan muncul 'saudara' Tugu Biawak di daerah lain? Mungkin saja. Tapi yang jelas, Tugu Biawak Wonosobo sudah lebih dulu mencetak sejarahnya sendiri: dari ikon nyeleneh jadi warisan resmi. Siapa sangka seekor biawak bisa membawa perubahan?
Wonosobo patut bangga. Dan bagi kamu yang belum pernah foto di depan Tugu Biawak, mungkin ini saat yang tepat untuk masuk dalam tren dan ikut merayakan simbol lokal yang kini mendunia.
Sumber : Panduinfo / Berbagai Sumber
Penulis : Tim Penulis
Editor : Tim Editor
180 Berita
Panduinfo – Puluhan massa yang tergabung dalam Gerakan Masyarakat Peduli Rakyat (Gempar) menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung DPRD Sumenep pada Jum'at(16/05/2025). Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk protes terhadap buruknya pelayanan di Puskesmas Pragaan, yang dinilai tidak lagi memberikan layanan kesehatan maksimal kepada masyarakat.
180 Berita
Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-79, Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Sumenep sukses menggelar acara Halal Bihalal yang berlangsung meriah di Gedung Korpri.